Jumat, 27 Februari 2015

Sarjana Sejarah Mau Jadi Apa ?


Sebagai mahasiswa ilmu sejarah, kita pasti akan asyik berkutat dengan sejarah dari masa ke masa. Tetapi, di luar sana banyak juga yang berkata bahwa mempelajari ilmu ini tidak akan membawa kita ke karier yang menjanjikan. Harus kita akui bahwa peminat prodi sejarah itu sedikit. Di antara yang sedikit itu ada yang dari awal memang memiliki komitmen terhadap keilmuan sejarah. Ada juga, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada mereka, yang masuk sejarah sebatas sebagai batu loncatan ke dunia kerja. Ada pula, juga tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada mereka, yang “terpaksa” masuk program studi sejarah karena gagal memasuki program studi pilihan utamanya. Yang perlu dicatat juga, adalah mereka yang awalnya “tak sengaja” atau “terpaksa” masuk program studi sejarah lalu malah menemukan “sesuatu” yang membuat mereka beruntung atau kemudian mendedikasikan dirinya untuk keilmuan sejarah. Namun yang seringkali menjadi penyebab utama sepinya peminat studi sejarah adalah masalah prospek kerja.

Kalau melihat dari kondisi negara kita tercinta ini, alasan tersebut dirasa wajar memang. Indonesia adalah sebuah negara berkembang yang tentu sebagian besar masyarakatnya menjadikan pertimbangan ekonomis sebagai bagian penting dari aspek hidupnya. Termasuk memilih program studi yang akan dijalani di perguruan tinggi. Biasanya kita akan memilih prodi yang memiliki prospek kerja kedepan yang bagus paling tidak yang gampang untuk mencari kerja. Itulah sebabnya bidang-bidang studi ekonomi, psikologi, teknik, kesehatan, dan beberapa ilmu terapan laris manis. Seperti kita ketahui. lulusan kedokteran sudah pasti jadi dokter. Lulusan psikologi bisa jadi pegawai bidang SDM di perusahaan. Lulusan farmasi bisa jadi apoteker atau buka apotek sendiri. Lulusan keperawatan bisa jadi perawat. Tapi coba lulusan sejarah, apakah harus jadi sejarawan juga? Tentu tidak.

Pekerjaan yang bisa dilakukan dengan bekal ilmu sejarah sebenarnya tidaklah sesedikit yang disangkakan. Biasanya peluang kerja lulusan sejarah tidak jauh-jauh dari bidang akademisi (dosen, guru) dan bidang penelitian (periset di lembaga-lembaga penelitian atau perusahaan). Bisa juga kita mencoba di sektor pemerintahan, misalnya PNS. Pasalnya, pemerintah biasanya mencari orang-orang dengan kemampuan di bidang komunikasi, riset, dan yang mampu berpikir kritis. Jadi, sebagai sarjana sejarah, kita sudah terlatih dalam semua area tadi dan membuat kita sebagai kandidat yang sempurna untuk pekerjaan di sektor pemerintahan.

Selain pilihan karier tadi, beberapa pekerjaan lain yang bisa kita lakoni dengan latar belakang sarjana sejarah adalah seniman, arsiparis, bankir, pengusaha, pekerja militer, dan menteri. Ingat, karier sebagai sarjana sejarah menjadi terbatas hanya jika kita membatasi diri. Akhirnya, kita kembali lagi pada satu hal yang mendasar, passion. Bermula dari passion dan niat itulah kita kemudian mengembangkan diri kita untuk melangkah ke depan. Saat kemudian kita masuk ke dunia kampus, itulah medan kita untuk mengembangkan passion itu berbekal ilmu sejarah. Saya yakin, dengan usaha-usaha itu kita yang nantinya akan menjadi bukti bahwa lulusan sejarah tak cuma jadi sejarawan. Bahwa lulusan sejarah bisa berkarya dan sukses di mana pun. Bravo Sejarah !


1 komentar: