Sebagai mahasiswa ilmu sejarah,
kita pasti akan asyik berkutat dengan sejarah dari masa ke masa. Tetapi, di
luar sana banyak juga yang berkata bahwa mempelajari ilmu ini tidak akan
membawa kita ke karier yang menjanjikan. Harus kita akui bahwa peminat prodi
sejarah itu sedikit. Di antara yang sedikit itu ada yang dari awal memang memiliki
komitmen terhadap keilmuan sejarah. Ada juga, tanpa mengurangi rasa hormat saya
kepada mereka, yang masuk sejarah sebatas sebagai batu loncatan ke dunia kerja.
Ada pula, juga tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada mereka, yang “terpaksa”
masuk program studi sejarah karena gagal memasuki program studi pilihan
utamanya. Yang perlu dicatat juga, adalah mereka yang awalnya “tak sengaja”
atau “terpaksa” masuk program studi sejarah lalu malah menemukan “sesuatu” yang
membuat mereka beruntung atau kemudian mendedikasikan dirinya untuk keilmuan
sejarah. Namun yang seringkali menjadi penyebab utama sepinya peminat studi
sejarah adalah masalah prospek kerja.
Kalau melihat dari kondisi negara
kita tercinta ini, alasan tersebut dirasa wajar memang. Indonesia adalah sebuah
negara berkembang yang tentu sebagian besar masyarakatnya menjadikan
pertimbangan ekonomis sebagai bagian penting dari aspek hidupnya. Termasuk memilih
program studi yang akan dijalani di perguruan tinggi. Biasanya kita akan
memilih prodi yang memiliki prospek kerja kedepan yang bagus paling tidak yang
gampang untuk mencari kerja. Itulah sebabnya bidang-bidang studi ekonomi,
psikologi, teknik, kesehatan, dan beberapa ilmu terapan laris manis. Seperti
kita ketahui. lulusan kedokteran sudah pasti jadi dokter. Lulusan psikologi
bisa jadi pegawai bidang SDM di perusahaan. Lulusan farmasi bisa jadi apoteker
atau buka apotek sendiri. Lulusan keperawatan bisa jadi perawat. Tapi coba
lulusan sejarah, apakah harus jadi sejarawan juga? Tentu tidak.
Pekerjaan yang bisa dilakukan
dengan bekal ilmu sejarah sebenarnya tidaklah sesedikit yang disangkakan.
Biasanya peluang kerja lulusan sejarah tidak jauh-jauh dari bidang akademisi
(dosen, guru) dan bidang penelitian (periset di lembaga-lembaga penelitian atau
perusahaan). Bisa juga kita mencoba di sektor pemerintahan, misalnya PNS. Pasalnya,
pemerintah biasanya mencari orang-orang dengan kemampuan di bidang komunikasi,
riset, dan yang mampu berpikir kritis. Jadi, sebagai sarjana sejarah, kita
sudah terlatih dalam semua area tadi dan membuat kita sebagai kandidat yang
sempurna untuk pekerjaan di sektor pemerintahan.
Selain pilihan karier tadi, beberapa pekerjaan lain
yang bisa kita lakoni dengan latar belakang sarjana sejarah adalah seniman,
arsiparis, bankir, pengusaha, pekerja militer, dan menteri. Ingat, karier
sebagai sarjana sejarah menjadi terbatas hanya jika kita membatasi diri. Akhirnya,
kita kembali lagi pada satu hal yang mendasar, passion. Bermula dari passion
dan niat itulah kita kemudian mengembangkan diri kita untuk melangkah ke depan.
Saat kemudian kita masuk ke dunia kampus, itulah medan kita untuk mengembangkan
passion itu berbekal ilmu sejarah. Saya yakin, dengan usaha-usaha itu kita yang
nantinya akan menjadi bukti bahwa lulusan sejarah tak cuma jadi sejarawan.
Bahwa lulusan sejarah bisa berkarya dan sukses di mana pun. Bravo Sejarah !

kak minta id line? mau tanya tentang sejarah 😊
BalasHapus